Menulis adalah caraku untuk menyentuh hatimu dari jauh

Total Pengunjung

Categories

Pages

META for A

META for A

Di taman itu hanya ada seekor kucing yang sedang tertidur. Aku mengamatinya dari koridor kelas lantai dua sekolahku. Aku memang suka mengamati hal disekitarku yang memang menurutku itu menarik. Terlebih lagi ketika aku sedang sendiri. Bagiku, mengamati adalah caraku untuk menutup sepi di hati.

Ahh, kali ini aku bisa merasakan angin yang berhembus kencang menyapu semua debu di taman sekolah. Daun-daun di ranting yang rapuh itu pun ikut terjatuh. Dan nampaknya, kucing itu pun ikut terusik sebab daun-daun itu tepat jatuh di atas kepalanya.

Meong. Itu suara dari kucing tersebut. Aku masih bisa mendengarnya sebab jarak antara koridor kelasku dengan taman tidaklah begitu jauh. Ku lihat kini kucing itu telah terbangun. Telapak kakinya tengah mengusap-usap kepalanya sendiri. Aku mengangkat pandanganku dari kucing tersebut ke arah di sekitarnya. Kulit wajahku kini bisa merasakan kembali hembusan angin yang menyapu pori-pori. Sungguh suasana yang benar-benar hangat di waktu istirahat.

Aku menatap ke arah jam yang melingkar di lengan kiriku. Nampaknya waktu istirahat tersisa lima menit lagi. Aku pun mulai menyadari suara dari siswa lain yang berjalan di koridor kelas. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk menyudahi acara mengamatiku dan masuk ke dalam kelas.

Di pojok kedua dekat pintu, aku melihat Rizal, teman sebangkuku sedang bersandar di tembok. Dari ekpresi wajahnya sih, nampaknya ia sedang kekenyangan. Ya, teman sebangkuku ini memang doyan makan, apalagi kalau gratisan.

"Gimana? Udah kenyang belom jajannya?!"

Rizal menengok ke arahku sebelum menjawabnya.

"Kenyang banget Ren ... kapan lagi di traktir sama Dimas?!" Jawabnya dengan penuh semangat.

Aku menatap Dimas dengan tampang tak percaya.

"Seriusan tuh, Dim?!"

"Lo, percaya aja sama Rizal, Ren?" Kali ini teman sebelahnya Dimas yang menimpali. Namanya Risky.

Aku menengok ke arah Risky dan melihatnya tengah asyik mengorek harta karun didalam lubang hidungnya.

"Njir, jorok lo Ky. Upil dipeperin ke tembok." Kata Rizal sambil berusaha menghindar dengan refleks. Tanpa disadari bel masuk istirahat pun berbunyi.

Guru sejarah peminatan pun terlihat tengah berjalan di koridor kelas. Ya, kali ini kelasku akan belajar tentang sejarah. Jika sudah menyangkut pelajaran itu, tidak akan jauh-jauh dari yang namanya membahas masa lalu. Sepenting itukah masa lalu untuk dibahas?

"Selamat siang anak-anak."


Guru sejarah peminatan yang tak lain adalah Bu Rini telah memasuki kelas. Semua murid membalas sapaannya.

"Siang, Bu."

Bu Rini mengambil tempat di kursinya. Buku yang ia bawa pun di taruh di atas meja. Kini matanya tengah memperhatikan semua murid dengan saksama. Semua murid yang ditatap pun hanya diam. Kelas tampak hening sesaat.

"Hari ini Ibu akan membagikan kalian menjadi 8 kelompok berisi 4 orang."

Bu Rini terlihat memegangi sebuah gelas minuman yang didalamnya telah berisi gulungan kertas.

"Dimulai dari pojok kanan paling depan. Maju!"

Seno, teman sekelasku pun maju. Mengambil salah satu gulungan kertas tersebut yang keluar dari dalam gelas. Seterusnya seperti itu hingga semua kelas mendapatkan gulungannya masing-masing.

"Yang sudah mendapat gulungan, silahkan ke kelompoknya masing-masing."

Aku mendapatkan gulungan kertas bertuliskan kelompok 5. Aku mencari siapa saja yang akan menjadi anggota kelompokku. Sungguh aku dibuat tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Meta, sosok memang dari awal aku sukai kini sekelompok denganku. Aku mengambil kursi tepat di sebelahnya. Sedangkan anggota yang lainnya adalah Dimas dan Dini.

Setelah mengetahui siapa saja yang menjadi anggota kelompokku. Pandanganku pun kini menuju ke arah Bu Rini yang sedang menulis tugas setiap kelompok di papan tulis.

"Baiklah, setiap kelompok wajib membuat sebuah artikel dengan tema yang telah Ibu tentukan masing-masing. Silahkan dikerjakan dan nanti dikumpul ke depan."


"Bu, ditulisnya dimana, Bu?" Tanya Seno yang duduk di kursi paling pojok.

Bu Rini mengarahkan pandangannya ke Seno sebelum menjawab.

"Dikertas selembar."

"Boleh buka google nggak, Bu?" Kini gantian Rizal yang bertanya.

"Ya, boleh. Kan cari informasinya dari internet."

Aku pun mulai membuka Hp ku. Mencari aplikasi browser, lalu mengetikkan kata kuncinya. Meta, yang duduk disebelahku pun ikut mencari.

"Ren, kamu sudah dapat belom informasinya?" Meta bertanya. Aroma parfumnya mampu tercium olehku dan sedikit menenangkan.

"Belom. Masih dicari."

Kami satu kelompok tengah sibuk mencari artikel yang akan dijadikan sumber untuk tugas kami. Tanpa disadari, lenganku dan Meta pun saling bersentuhan. Aku bisa merasakan kelembutan dari kulit lengannya.

"Eh, sorry, Meta." Aku meminta maaf.

"Nggak pa-pa."

Sepintas denyut jantungku bertambah cepat saat lenganku tadi bersentuhan dengan lengannya. Untung saja aku bisa mengatur napasku, sehingga keringat gugupku tidak terkucur deras di dahi.

Meta, kamu bisa mendengarnya tidak? Suara hatiku yang terus memanggil namamu. Suara hatiku yang terus meneriakkan "I love you". Ku rasa aku sudah tahu jawabannya. Meskipun kini kita saling berdekatan, suara hatiku tetap mustahil untuk terdengar. Sebab Tuhan menciptakan hati sebagai tempat penyimpan rahasia paling baik. Dan hatiku kini tengah menyimpan rahasia tentang perasaan yang selalu terpendam.

Kenyataan mungkin yang membuat rahasia itu kini menjadi misteri. Kenyataan bahwa kamu telah dimiliki orang lain. Dan aku harusnya menyadari dari awal. Sebab kamu META for A, bukan META for ME.
Patah Hati Yang Dimulai Dari Nol

Patah Hati Yang Dimulai Dari Nol

Bayangkan!!! Saat kau belum memulai sesuatu tentang cinta. Namun, kau telah terlukai olehnya~oleh perasaan itu sendiri. Begitu naifnya diriku yang berusaha menyembunyikan semua itu. Padahal disatu sisi, aku ingin sekali dia tau mengenai perasaan ini. Aku sudah berulang kali menanyakan hal yang sama pada hatiku. Tentang apa yang harus aku lakukan terhadap perasaan ini? Namun, jawabannya itu seperti tertulis pada kertas buram yang aku tak bisa membacanya.

Di barisan pojok dekat pintu, lebih tepatnya di kursi kedua. Aku mempercayakan punggungku kepada tembok disebelahku. Untuk sedikit meringankan beban yang ada di pundak selepas upacara bendera tadi pagi. Aku heran, rasa penat di tubuhku ini serasa tak mau lepas meski sekarang sudah memasuki jam pelajaran ketiga, yaitu PKn.


Aku melihat ke arah Bu Shinta yang sedang memperhatikan selembaran kertas yang tertempel di papan tulis hitam di depan kelas. Lalu, mataku memutar arah ke kursi kosong disebelahku. Itu adalah kursi teman sebangkuku yang bernama Rizal. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga.


Mataku kembali memutar arah. Sekarang ke arah mejaku yang dipenuhi buku dengan halaman yang terbuka lebar. Didalamnya terdapat banyak soal yang harus aku kerjakan. Hm ... sudah menjadi tugasku sebagai seorang siswa SMA yang sebentar lagi akan menatap ujian kelulusan.


Tanganku sedari tadi asyik memain-mainkan pulpen dengan jemari tanpa henti. Sebenarnya itu adalah caraku ketika berpikir. Ya, saat ini aku sedang memikirkan jawaban dari soal-soal yang kini terlihat seperti menatapku. Tanpa sadar aku melamun. Dan hal itu disadari oleh teman di depanku yang bernama Seno.


"Ren, jangan ngelamun lo. Itu tugasnya kerjain cepet nanti dikumpul!" Suara beratnya cukup untuk menyadarkanku dari lamunan.


"Siapa yang ngelamun?" Aku berusaha mengelak.


Seno mengarahkan jari telunjuknya ke arahku. Aku memahaminya sebagai jawaban dari pertanyaanku tadi.


Seno melihat ke arah buku latihanku. "Dih, baru nomer satu," katanya.


"Iya, abis soalnya susah," jawabku. "Emang lo udab nomer berapa?"


"Sama. Masih nomer satu juga, hehe." Seno menjawabnya dengan cengiran khas dirinya.


Aku menggelengkan kepala, "Nggak usah ngomong kalo kayak gitu."


"Udah cepetan Ren kerjain biar gue bisa nyontek." Ucapan Seno membuatku ingin sekali menghadiahinya jitakan di kepala.


Aku menghela napas, tidak membalas ucapannya. Terlebih kali ini pandanganku tengah fokus pada lembaran buku yang mengumpul di meja. Kepalaku sedikit terangkat dan mataku menengok ke arah jam dinding di depan kelas. Masih cukup waktu untukku menyelesaikan soal PKn ini sampai kelar


***


Bel berbising keras tanda jam pelajaran usai. Digantikan dengan jam istirahat selama 15 menit. Aku merapikan buku yang ada di mejaku, lalu memasukannya ke dalam tas. Hari ini aku tidak ke kantin, bukan karena tidak punya duit, tetapi karena lagi mager saja. Sebagai gantinya, aku melihat-lihat cerpen yang ada di salah satu website. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang di jam istirahat.


Ada banyak judul cerpen didalam website tersebut. Sambil bersandar ke tembok, tanganku menggulir layar Hp ke atas dan mengklik salah satu judul, lalu membacanya hingga selesai.


"Cerpen yang menarik," ucapku dalam hati.


Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata hanya ada aku dan dirinya saja. Yaitu Meta, gadis yang aku suka sudah sejak dua tahun yang lalu. Lebih tepatnya adalah saat MOS. Bisa dibilang itu adalah cinta pada pandangan pertama. Hanya aku yang tahu, sedangkan dia tak menyadarinya.


Meta nampak sedang membaca novel. Dari raut wajahnya aku bisa tahu kalau dia sangat menghayati setiap kata di novel itu. Aku yakin membaca adalah hobinya. Andai saja Meta juga bisa membaca hatiku. Aah, aku mulai berandai-andai.


Jika seseorang bertanya mengapa aku bisa jatuh cinta dengan Meta? Jawabannya ada di matanya. Sebab dari matanya aku bisa melihat bentuk kepedulian dirinya terhadap sekitar.


Namun sungguh disayangkan, sebab hati Meta kini telah dimiliki oleh orang lain beserta dengan cintanya. Andai saja waktu itu aku tidak membuang kesempatan yang sangat berharga. Yang mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Andai saja waktu itu aku berani untuk memulai. Meskipun nantinya aku akan patah hati, setidaknya tidak dimulai dari nol. Sebab aku telah memulai langkah yang pertama.


Apalagi ini akan menjadi tahun terakhirku sebagai siswa SMA. Namun, masih ada yang mengganjal di hatiku. Semacam sebuah penyesalan yang aku sendiri tidak tahu dimana awalnya. Bagiku, ini sudah menjadi akhir .., akhir yang sangat menyedihkan.


Mataku masih tetap menjurus pada sosok Meta yang nampaknya begitu serius. Aku jadi ingin tahu sebenarnya judul novel apa yang ia baca. Namun, aku takkan bisa mendekatinya. Langkah kakiku mungkin terlalu takut untuk beranjak dari kursi yang saat ini ku duduki. Menghampiri dirinya saat ini adalah hal yang mustahil untuk aku lakukan meskipun aku tahu kelas masih tampak sepi.


"Gimana ya caranya agar aku bisa menyentuhmu?" aku bertanya dalam hati, terlebih pada diriku sendiri yang merasa tak berdaya saat di hinggapi oleh rasa.


Andai aku menjadi novel itu. Novel yang saat ini berada dalam genggaman kedua tangannya. Aku ingin menyisakan selembar halaman yang berisi ungkapan hatiku. Agar nanti saat ia membacanya, ia akan tahu bahwa sejak dulu aku selalu menyukai dirinya.


Tanpa sadar, hatiku mengucapkan sebuah impian. Suatu saat nanti aku akan menjadi seorang penulis. Aku ingin menyentuhmu lewat tulisanku. Aku ingin memelukmu penuh kehangatan dalam sejuta kata yang nantinya akan aku tuliskan. Aku ingin mengabadikan cinta yang ku punya dalam setiap kalimat yang terangkai dengan mesra. Dan lewat tulisanku itu, aku ingin kau tahu bahwa kini aku patah hati. Bukan karenamu, tetapi karena aku terlalu mencintaimu.
Back To Top