Menulis adalah caraku untuk menyentuh hatimu dari jauh

Total Pengunjung

Categories

Pages

Patah Hati Yang Dimulai Dari Nol

Bayangkan!!! Saat kau belum memulai sesuatu tentang cinta. Namun, kau telah terlukai olehnya~oleh perasaan itu sendiri. Begitu naifnya diriku yang berusaha menyembunyikan semua itu. Padahal disatu sisi, aku ingin sekali dia tau mengenai perasaan ini. Aku sudah berulang kali menanyakan hal yang sama pada hatiku. Tentang apa yang harus aku lakukan terhadap perasaan ini? Namun, jawabannya itu seperti tertulis pada kertas buram yang aku tak bisa membacanya.

Di barisan pojok dekat pintu, lebih tepatnya di kursi kedua. Aku mempercayakan punggungku kepada tembok disebelahku. Untuk sedikit meringankan beban yang ada di pundak selepas upacara bendera tadi pagi. Aku heran, rasa penat di tubuhku ini serasa tak mau lepas meski sekarang sudah memasuki jam pelajaran ketiga, yaitu PKn.


Aku melihat ke arah Bu Shinta yang sedang memperhatikan selembaran kertas yang tertempel di papan tulis hitam di depan kelas. Lalu, mataku memutar arah ke kursi kosong disebelahku. Itu adalah kursi teman sebangkuku yang bernama Rizal. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga.


Mataku kembali memutar arah. Sekarang ke arah mejaku yang dipenuhi buku dengan halaman yang terbuka lebar. Didalamnya terdapat banyak soal yang harus aku kerjakan. Hm ... sudah menjadi tugasku sebagai seorang siswa SMA yang sebentar lagi akan menatap ujian kelulusan.


Tanganku sedari tadi asyik memain-mainkan pulpen dengan jemari tanpa henti. Sebenarnya itu adalah caraku ketika berpikir. Ya, saat ini aku sedang memikirkan jawaban dari soal-soal yang kini terlihat seperti menatapku. Tanpa sadar aku melamun. Dan hal itu disadari oleh teman di depanku yang bernama Seno.


"Ren, jangan ngelamun lo. Itu tugasnya kerjain cepet nanti dikumpul!" Suara beratnya cukup untuk menyadarkanku dari lamunan.


"Siapa yang ngelamun?" Aku berusaha mengelak.


Seno mengarahkan jari telunjuknya ke arahku. Aku memahaminya sebagai jawaban dari pertanyaanku tadi.


Seno melihat ke arah buku latihanku. "Dih, baru nomer satu," katanya.


"Iya, abis soalnya susah," jawabku. "Emang lo udab nomer berapa?"


"Sama. Masih nomer satu juga, hehe." Seno menjawabnya dengan cengiran khas dirinya.


Aku menggelengkan kepala, "Nggak usah ngomong kalo kayak gitu."


"Udah cepetan Ren kerjain biar gue bisa nyontek." Ucapan Seno membuatku ingin sekali menghadiahinya jitakan di kepala.


Aku menghela napas, tidak membalas ucapannya. Terlebih kali ini pandanganku tengah fokus pada lembaran buku yang mengumpul di meja. Kepalaku sedikit terangkat dan mataku menengok ke arah jam dinding di depan kelas. Masih cukup waktu untukku menyelesaikan soal PKn ini sampai kelar


***


Bel berbising keras tanda jam pelajaran usai. Digantikan dengan jam istirahat selama 15 menit. Aku merapikan buku yang ada di mejaku, lalu memasukannya ke dalam tas. Hari ini aku tidak ke kantin, bukan karena tidak punya duit, tetapi karena lagi mager saja. Sebagai gantinya, aku melihat-lihat cerpen yang ada di salah satu website. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang di jam istirahat.


Ada banyak judul cerpen didalam website tersebut. Sambil bersandar ke tembok, tanganku menggulir layar Hp ke atas dan mengklik salah satu judul, lalu membacanya hingga selesai.


"Cerpen yang menarik," ucapku dalam hati.


Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata hanya ada aku dan dirinya saja. Yaitu Meta, gadis yang aku suka sudah sejak dua tahun yang lalu. Lebih tepatnya adalah saat MOS. Bisa dibilang itu adalah cinta pada pandangan pertama. Hanya aku yang tahu, sedangkan dia tak menyadarinya.


Meta nampak sedang membaca novel. Dari raut wajahnya aku bisa tahu kalau dia sangat menghayati setiap kata di novel itu. Aku yakin membaca adalah hobinya. Andai saja Meta juga bisa membaca hatiku. Aah, aku mulai berandai-andai.


Jika seseorang bertanya mengapa aku bisa jatuh cinta dengan Meta? Jawabannya ada di matanya. Sebab dari matanya aku bisa melihat bentuk kepedulian dirinya terhadap sekitar.


Namun sungguh disayangkan, sebab hati Meta kini telah dimiliki oleh orang lain beserta dengan cintanya. Andai saja waktu itu aku tidak membuang kesempatan yang sangat berharga. Yang mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Andai saja waktu itu aku berani untuk memulai. Meskipun nantinya aku akan patah hati, setidaknya tidak dimulai dari nol. Sebab aku telah memulai langkah yang pertama.


Apalagi ini akan menjadi tahun terakhirku sebagai siswa SMA. Namun, masih ada yang mengganjal di hatiku. Semacam sebuah penyesalan yang aku sendiri tidak tahu dimana awalnya. Bagiku, ini sudah menjadi akhir .., akhir yang sangat menyedihkan.


Mataku masih tetap menjurus pada sosok Meta yang nampaknya begitu serius. Aku jadi ingin tahu sebenarnya judul novel apa yang ia baca. Namun, aku takkan bisa mendekatinya. Langkah kakiku mungkin terlalu takut untuk beranjak dari kursi yang saat ini ku duduki. Menghampiri dirinya saat ini adalah hal yang mustahil untuk aku lakukan meskipun aku tahu kelas masih tampak sepi.


"Gimana ya caranya agar aku bisa menyentuhmu?" aku bertanya dalam hati, terlebih pada diriku sendiri yang merasa tak berdaya saat di hinggapi oleh rasa.


Andai aku menjadi novel itu. Novel yang saat ini berada dalam genggaman kedua tangannya. Aku ingin menyisakan selembar halaman yang berisi ungkapan hatiku. Agar nanti saat ia membacanya, ia akan tahu bahwa sejak dulu aku selalu menyukai dirinya.


Tanpa sadar, hatiku mengucapkan sebuah impian. Suatu saat nanti aku akan menjadi seorang penulis. Aku ingin menyentuhmu lewat tulisanku. Aku ingin memelukmu penuh kehangatan dalam sejuta kata yang nantinya akan aku tuliskan. Aku ingin mengabadikan cinta yang ku punya dalam setiap kalimat yang terangkai dengan mesra. Dan lewat tulisanku itu, aku ingin kau tahu bahwa kini aku patah hati. Bukan karenamu, tetapi karena aku terlalu mencintaimu.
Labels: Cerpen

Thanks for reading Patah Hati Yang Dimulai Dari Nol. Please share...!

0 Comment for "Patah Hati Yang Dimulai Dari Nol"

Back To Top